Halo, saya e_parkir
Lihat profil


Januari 2008

SMTWTFS
1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31

Tag

Komentar terakhir

Latest posts

Syndicate content

Tambahkan ke My Dada

Tambahkan ke My Dada

Share your contents

De.licio.us

Dinamika Intelektual Muhammadiyah

by e_parkir (27/01/2008 - 05:23)

Dinamika Intelektual Muda Muhammadiyah



Oleh
Bawono Kumoro

November ini, Muhammadiyah genap berusia 95 tahun. Secara historis, organisasi ini berdiri pada 18 November 1912 di Yogyakarta. Muhammadiyah lahir dalam tren gerakan modernisme Islam yang diusung oleh Muhammad Abduh pada awal abad ke-20. Karena itu, tak dapat dimungkiri bahwa gerakan modernisme Islam telah memberi pengaruh signifikan terhadap organisasi sosial keagamaan yang didirikan KH Ahmad Dahlan ini, terutama pada level ideologi.
Di usianya yang menjelang satu abad ini, derap langkah Muhammadiyah sebagai salah satu ormas keagamaan terbesar di Indonesia akan semakin mendapat sorotan luas masyarakat. Salah satu hal yang seringkali mendapat sorotan adalah semakin berkembangnya wacana kritis-progresif yang dibawa oleh kaum muda sejak beberapa tahun belakangan ini. Dinamika intelektual kaum muda tersebut selanjutnya mengejawantahkan diri dalam Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM).
JIMM oleh sebagian kalangan warga Muhammadiyah dituduh sebagai komunitas yang berseberangan dengan “suara resmi” Muhammadiyah. JIMM pun dicap sebagai “anak haram” yang harus dienyahkan dari Muhammadiyah. Mereka juga menilai bahwa secara teologis JIMM telah menyimpang jauh dari sumber otoritatif Islam, yakni Al-Qu’ran dan hadis. Masih banyak lagi setumpuk penilaian negatif lain yang dinisbatkan kepada JIMM.
Ada beberapa alasan mendasar mengapa kaum muda Muhammadiyah bangkit dan mengusung wacana-wacana kritis-progresif. Pertama, munculnya kedasaran dalam diri kaum muda untuk mengembalikan Muhammadiyah sebagai gerakan pembaharuan (tajdid) Islam. Seiring dengan perkembangan zaman, Muhammadiyah harus semakin dewasa dalam merespon berbagai persoalan sosial kemasyarakatan yang berkembang di tengah-tengah masyarakat.

Kebodohan dan Kemiskinan
Secara historis, sejak kelahirannya Muhammadiyah telah membawa semangat pembebasan, yakni bagaimana membebaskan manusia dari belenggu kebodohan dan kemiskinan serta mendorong penghargaan pada harkat dan martabat kemanusiaan. Bukankah ketika KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah, pengajaran yang sering ia ulang-ulang adalah membaca surat al-Ma’un? Surat ini membicarakan para pendusta agama, yaitu muslim yang rajin beribadah, tetapi menghardik anak yatim, serta tidak memberi makan fakir miskin.
Secara praksis, spirit yang dibawa oleh surat al-Ma’un tersebut selama ini diaplikasikan dalam bentuk mendirikan sekolah-sekolah, panti asuhan, dan berbagai fasilitas kesehatan. Jika dulu ketika Indonesia masih berada di alam penjajahan hal tersebut dipandang sebagai sesuatu yang progresif.
Lalu mengapa kini wacana-wacana kritis progresif yang diusung oleh kaum muda guna merumuskan strategi-strategi pembebasan mustadh’afin, disikapi dengan apriori oleh sebagian generasi tua?
Idealnya, Muhammadiyah tidak hanya melulu mengurusi masalah-masalah ritual keagamaan organisasi, tetapi juga peduli untuk turut menyelesaikan berbagai persoalan sosial dengan menggunakan paradigma keilmuan yang jelas sebagai pisau analisanya. Ringkasnya, kaum muda resah dengan pembakuan dogmatis Islam murni. Apa yang mereka rintis melalui JIMM adalah isyarat bahwa mereka sedang berbicara atas nama zamannya.
Kedua, terjadinya benturan tentang apa yang diinginkan oleh kaum muda dengan sebagian kaum tua di dalam persyarikatan ini. Dalam beberapa hal telah terjadi penghakiman sepihak terhadap pikiran-pikiran kaum muda. Pemikiran kritis-progresif dianggap tidak memiliki pijakannya di Muhammadiyah.
Telah terjadi ketegangan antara antara kaum tua yang lebih puritan dan kaum muda yang lebih dinamis. Dewasa ini di Muhammadiyah ada dua kubu yang saling kontradiktif, meminjam istilah Sukidi, Muhammadiyah konservatif versus Muhammadiyah progresif.
Hemat saya, ini terjadi karena minimnya pertemuan dialog lintas generasi dalam tubuh Muhammadiyah. Selama ini, yang tampak adalah kurangnya intensitas pertemuan antara generasi muda dengan generasi tua.
Kondisi seperti ini harusnya tak boleh terjadi, sebab kaum muda dan kaum tua harus bersama-sama mengambil bagian dan peran yang signifikan guna merumuskan kembali prinsip purifikasi dan dinamisasi Islam dengan berbagai problem dan perkembangan zaman sekarang ini. Dari situlah mereka dapat melakukan kerja-kerja kultural untuk hari esok yang lebih mencerahkan.

Yang Berhaluan Kiri
Ketiga, lambannya kaum konservatif Muhammadiyah dalam merespons masalah-masalah aktual yang salah satu sebabnya karena adanya monopoli tafsir. Kecenderungan ini merupakan konsekuensi dari klaim kebenaran yang menyebabkan sakralisasi terhadap tafsir keagamaan.
Dinamika dan perkembangan wacana pemikiran Islam yang demikian cepat semakin menjelaskan bahwa gaya konservatif tidak lagi memadai untuk merespons masalah aktual yang terus bergulir.
Keempat, wacana kritis-progresif merupakan bagian dari tradisi intelektual Muhammadiyah. Pada masa-masa awal kelahirannya, Muhammadiyah pernah dihuni oleh tokoh-tokoh yang mengusung wacana-wacana kritis-progresif. Sebut saja di antaranya ialah H Fachroedin dan H Misbach, keduanya dikenal sebagai seorang muslim yang berjiwa sosialis/komunis. Selain itu, keduanya juga pernah aktif di redaksi Islam Bergerak, sebuah media massa yang berhaluan kiri dan ditujukan sebagai media perlawanan terhadap hegemoni kaum penjajah.
KH Ahmad Dahlan pernah mempersilahkan Semaun dan Darsono–keduanya tokoh ISDV– untuk memberi kursus singkat di depan para anggota Muhammadiyah di Yogyakarta. Realitas tersebut menggambarkan bahwa wacana-wacana kritis-progresif bukanlah suatu hal yang ditabukan dalam Muhammadiyah.
Harus diakui bahwa dalam hal memberikan peluang kepada kaum muda, NU jauh lebih progresif ketimbang Muhammadiyah. Pada muktamar 1994, NU sudah bisa menerima kehadiran kaum muda dalam jajaran kepemimpinan pusat.
Muhammadiyah pada muktamar 1995 belum mengakomodasi seorang pun dari kalangan muda. Hal ini tentu merupakan otokritik tersendiri bagi Muhammadiyah.
Sejatinya, kaum muda harus terus diberi ruang untuk melakukan terobosan-terobosan baru dengan mengangkat gerakan intelektual di tengah arus perubahan politik yang demikian cepat. Dan juga untuk melanjutkan ijtihad kaum modernis pada level yang lebih populis, dalam arti pada segala hal yang berkaitan dengan masalah-masalah aktual masyarakat sehari-hari.
Kaum muda Muhammadiyah memiliki tekad yang kuat untuk melanjutkan cita-cita luhur KH. Ahmad Dahlan agar Islam senantiasa relevan dan kontekstual dengan zamannya. Sudah saatnya, Muhammadiyah tampil kembali menjadi pelopor pembaruan Islam dan transformasi sosial di Indonesia.

Penulis adalah intelektual muda Muhammadiyah; Editor Jurnal Politik Islam dan Peneliti Laboratorium Politik Islam UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Rate this post


Komentar




(Masukkan url blog dan website pribadi anda )

Masukkan teks yang anda lihat ke dalam box

(Hal ini dilakukan untuk mencegah spam)