AR Fachruddin Sosok Ulama yang Beri Keteduhan
token from : republika
Di tangannya, Islam terasa sangat mudah dan toleran. Prinsipnya dalam berdakwah, Islam harus dibawakan dengan senyum. Agaknya prinsip 'senyum' ini, ikut membentuk wajah Muhammadiyah --ormas Islam yang pernah beberapa periode dipimpinnya-- terasa teduh. "Memimpin dengan senyum", kesan itulah yang melekat pada diri ulama kharismatik ini. Ia menyadari betul, senyum memiliki nilai ibadah. Kata Nabi, "Senyummu kepada saudaramu adalah shadaqah." Tokoh dan ulama Muhammadiyah itu tak lain adalah KH Abdul Rozak Fachruddin. Sosok sederhana yang akrab dipanggil Pak AR ini dilahirkan pada 14 Februari 1916, di Brosot, sebuah dusun kecil di wilayah Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta. Sejak kecil, AR Fachruddin sudah berkecimpung di Muhammadiyah. Setelah lulus dari bangku SD Muhammadiyah tahun 1928, AR kecil melanjutkan ke Muallimin selama dua tahun. Tak sampai selesai, karena orang tuanya jatuh pailit. AR pun dipanggil orang tuanya pulang ke desa, dan meneruskan ngaji kepada para kiai di desa. Dalam usia 16 tahun, AR menjadi yatim karena ayahnya meninggal. Sepeninggal ayahnya, AR Fachruddin kembali ke bangku sekolah. Ia belajar di Wustho (sekolah sore) sampai 1932, diteruskan ke Muballighin hingga 1935. Selanjutnya AR masuk Darul Ulum, semacam SPG (sekolah pendidikan guru) Muhammadiyah. Selepas itu, ia dikirim oleh PP Muhammadiyah untuk mengajar di Palembang. Sejak di bangku sekolah, AR sudah dikenal pandai berpidato. Pengabdiannya bukan saja di lingkungan Muhammadiyah, tapi juga di pemerintahan dan perguruan tinggi. Pak AR misalnya, pernah menjabat sebagai kepala Kantor Urusan Agama, Wates (1947). Tidak lama di jabatannya itu, dia ikut bergerilya melawan Belanda. Pada 1950-1959, ia menjadi pegawai di kantor Jawatan Agama wilayah Yogyakarta, lalu pindah ke Semarang, sambil merangkap dosen luar biasa bidang studi Islamologi di Unissula, FKIP Undip, dan STO. Sedangkan di Muhammadiyah, dimulai sebagai pimpinan Pemuda Muhammadiyah (1938-1941). Ia menjadi pimpinan mulai di tingkat ranting, cabang, wilayah, hingga sebagai Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Jabatan sebagai ketua PP Muhammadiyah dipegangnya pada 1968 setelah di fait accompli menggantikan KH Faqih Usman, yang meninggal. Pada Muktamar Muhammadiyah ke-38 di Ujungpandang, Pak AR terpilih sebagai ketua. Hampir seperempat abad ia menjadi orang paling atas di Muhammadiyah, sebelum digantikan oleh almarhum KH Azhar Basyir (setelah tidak lagi bersedia dicalonkan dalam Muktamar Muhammadiyah 1990). Setelah dirawat di RS Islam Jakarta, Pak AR wafat pada 17 Maret 1995, meninggalkan 7 putra dan putri. Sesuatu yang nampak menonjol dari pribadi Pak AR adalah kesederhanaan, kejujuran, dan keikhlasan. Tiga sifat itulah, menurut Dr Amien Rais, warisan utama Pak AR yang perlu terus dihidupkan tidak hanya oleh kalangan Muhammadiyah. Selaku pemimpin umat, Pak AR sangat sepi dari limpahan harta benda. ''Beliau sangat mungkin untuk memiliki mobil mengkilap, atau rumah mewah. Tetapi Pak AR memilih untuk tidak punya apa-apa,'' kata Amien. Kesejukannya sebagai pemimpin umat Islam juga bisa dirasakan oleh umat agama lain. Ketika menyambut kunjungan pemimpin umat Kristiani sedunia, Paus Yohannes Paulus II, di Yogyakarta dalam sebuah kunjungan resmi ke Indonesia, Pak AR menyampaikan 'uneg-uneg' dan kritik kepada Paus. Pak AR mengeluhkan, bahwa tak sedikit umat Islam yang lemah dan tak berkecukupan seringkali dirayu umat Kristen untuk masuk agama mereka. Kesempatan itu juga digunakan Pak AR menjelaskan pada Paus, bahwa agama harus disebarluaskan dengan cara-cara yang perwira dan sportif. Kritik ini diterima dengan lapang dada oleh umat lain karena disampaikan dengan lembut dan sejuk, serta dijiwai dengan semangat toleransi tinggi. Tak hanya kesejukan, Pak AR juga dikenal sangat merakyat. Meski ia menduduki jabatan puncak di organisasi Muhammadiyah, namun dia tidak pernah jauh dari umat yang dipimpinnya. Ia memberikan seluruh diri dan hidupnya kepada Muhammadiyah. Suatu ketika di tahun 1975, becak yang dinaikinya dicegat seorang pedagang kaki lima. Pedagang itu ternyata hanya ingin bertanya tentang hukum pinjam-meminjam. Lebih setengah jam, Pak AR memberi penjelasan kepada pedagang tersebut. Setelah si penanya puas, Pak AR kembali melanjutkan perjalanan. Pak AR yang memang selalu ingin dekat dengan rakyat kecil itu, paling senang jika diundang berceramah di kalangan rakyat bawah di lembah Kali Code dan kampung-kampung pinggiran di Yogyakarta. Suatu kali, dalam sebuah kultum (kuliah tujuh menit), Pak AR menjelaskan mengapa dirinya senang ceramah di kalangan rakyat kecil dan miskin. "Karena itulah sunnah Nabi SAW," jawabnya. Para pengikut Islam, pertama-tama, jelas Pak AR, adalah rakyat miskin dan budak belian. "Karena itu, sebagai dai jangan berharap pada orang-orang besar dan kaya. Bukankah Nabi pernah mendapat teguran dari Allah karena menyepelekan orang kecil demi berdakwah untuk orang besar?" jelasnya. Sikapnya yang merakyat inilah yang membuat periode kepemimpinannya dinilai sangat berhasil. Totalitas Pak AR dalam ber-Muhammadiyah, itu juga ditunjukkan dalam bentuk penolakannya ketika pemerintah Orde Baru berkali-kali menawarinya menjadi anggota DPR dan jabatan lainnya. Di sisi lain, Pak AR juga tetap menjaga hubungan baik dengan pemerintah, dan bekerja sama secara wajar. Sikap dan kebijakannya ini membuat warga Muhammadiyah merasa teduh, aman dan memberikan kepercayaan yang besar kepadanya.n hery sucipto Tak Punya Rumah Sendiri Bagaimana Pak AR di mata keluarganya? "Bapak tidak pernah marah. Kepada kami, juga kepada orang lain. Kalaupun menasihati kami, dilakukannya secara halus kadang diselingi dengan humor," ujar Siti Zahanah, anak ketiga Pak AR, sebagaimana dituturkannya dalam buku Pak AR, Profil Kiai Merakyat. Meski sebagai teladan dan sangat dihormati di keluarga, bukan berarti urusan keluarga menjadi prioritas. Baginya, keluarga adalah nomor dua, sementara Muhammadiyah dan umat adalah urusan pertama dalam hidupnya. Namun, dukungan keluarga sangat penting bagi Pak AR untuk menjalankan aktivitas dan amanat organisasi. Setiap akan meninggalkan rumah lebih dari sehari semalam, Pak AR mempunyai kebiasaan berpesan kepada sang istri, Siti Qomariyah, dan anak-anaknya. "Aku arep lungo nang kene semene dino. Kowe kabeh tak pasrahke Gusti Allah (Aku akan pergi ke kota ini sekian hari. Kamu sekalian saya titipkan kepada Allah)," tutur Qomariyah, menirukan pesan Pak AR. Pak AR memang berharap istrinya benar-benar berperan sebagai ibu rumah tangga secara penuh. Menjadi istri sekaligus ibu rumah tangga yang istiqomah, yang mampu membimbing dan memberi motifasi kepada anak-anak. Pak AR sadar betul, tugasnya yang berat sebagai ketua Muhammadiyah, membuatnya tak cukup waktu untuk keluarga. Karena itulah, sang istri yang mengambil alih tugas-tugas keseharian di rumah ketika Pak AR tugas keluar. Toh demikian, sudah menjadi rahasia umum, jika keluarga Pak AR yang tergolong keluarga besar (9 orang) ini tidak mempunyai rumah pribadi. Padahal, sebagai orang penting, bila ia mau, bisa saja hal itu terpenuhi dalam hitungan hari. Tapi tidak demikian dengan Pak AR. Rumah cukup besar yang ditempatinya sejak 1971 adalah milik persyarikatan Muhammadiyah. Sebelumnya, Pak AR sekeluarga menghuni rumah sewa sederhana di Kauman nomor 260, Yogyakarta. Tapi, bukan berarti Pak AR tidak ingin memiliki rumah pribadi. Hal itu pun sudah ia usahakan saat menjabat sebagai kepala Kantor Agama Jawa Tengah di Semarang tahun 1959-1964, dengan cara membeli rumah secara angsuran yang diusahakan pihak swasta. Karena memang sifatnya yang tidak pernah berburuk sangka, angsuran rumah yang tanpa disertai surat jaminan itu pun tak berumur panjang. Pak AR tertipu oleh pengembang yang membawa lari uangnya. "Wis ora usah dirembug maneh. Sesuk bakal diijoli omah sing luwih apik neng suwargo (Sudah, tidak usah dibicarakan lagi. Nanti akan mendapat ganti rumah yang lebih baik di surga)," tutur Qomariyah, ketika menanyakan kelanjutan dan status rumah yang diangsur itu.n her ()
Kalau nyebut pak AR, benak saya langsung mengarah kepada pak AR Fachruddin (alm), ketua PP Muhammadiyah. Saya sangat mengagumi gaya pak AR (alm) kalau ceramah: Santun, lembut, sejuk.......(Comment)
from : http://pakarfisika.wordpress.com/about/#comment-176
AR Facruddin tentang H.Ibrahim :
Sebelum Dahlan wafat, ia berpesan pada sahabat-sahabatnya agar tongkat kepemimpinan Muhamadiyah sepeniggalnya diserahkan kepada Kiai Haji Ibrahim. Mula-mula KH. Ibrahim yang terkenal sebagai ulama besar menyatakan tidak sanggup memikul beban yang demikian berat itu. Namun atas desakan sahabat-sahabatnya agar amanat pendiri Muhammadiyah bisa dipenuhi, akhirnya dia bisa menerimanya. Kepemimpinannya dalam Muhammadiyah dikukuhkan pada bulan Maret 1923 dalam Rapat Tahunan Anggota Muhammadiyah sebagai Voorzitter Hoofdbestuur Moehammadijah Hindia Timur (Soedja`, 1933: 232). KH. Ibrahim dilahirkan di kampung Kauman Yogyakarta pada tanggal 7 Mei 1874. Ia adalah putra dari KH. Fadlil Rachmaningrat, seorang Penghulu Hakim Negeri Kesultanan Yogyakarta pada zaman Sultan Hamengkubuwono ke VII (Soedja`. 1933: 227), dan ia merupakan adik kandung Nyai Ahmad Dahlan.
Ibrahim menikah dengan Siti Moechidah binti Abdulrahman alias Djojotaruno (Soeja`. 1933:228) pada tahun 1904. Pernikahannya dengan Siti Moechidah ini tidak berlangsung lama, karena istrinya segera dipanggil menghadap Allah. Selang beberapa waktu kemudian Ibrahim menikah dengan ibu Moesinah putri ragil dari KH. Abdulrahman (adik kandung dari ibu Moechidah).
Ibu Moesinah (Nyai Ibrahim yang ke-2) dikaruniai usia yang cukup panjang yaitu sampai 108 tahun, dan baru meninggal pada 9 September 1998. Menurut penilaian para sahabat dan saudaranya, Ibu Moesinah Ibrahim merupakan potret wanita zuhud, penyabar, gemar sholat malam dan gemar silaturahmi. Karena kepribadiannya itulah maka Hj. Moesinah sering dikatakan sebagai ibu teladan (Suara `Aisyiyah. No.1/1999: 20).
Masa kecil Ibrahim dilalui dalam asuhan orang tuanya dengan diajarkan mengkaji al-Qur'an sejak usia 5 tahun. Ia juga dibimbing memperdalam ilmu agama oleh saudaranya sendiri (kakak tertua), yaitu KH. M. Nur. Ia menunaikan ibadah haji pada usia 17 tahun, dan dilanjutkan pula menuntut ilmu di Mekkah selama lebih kurang 7-8 tahun. Pada tahun 1902 ia pulang ke tanah air karena ayahnya sudah lanjut usia.
KH. Ibrahim yang selalu mengenakan jubah panjang dan sorban dikenal sebagai ulama besar dan berilmu tinggi. Setibanya di tanah air, KH. Ibrahim mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat. Banyak orang berduyun-duyun untuk mengaji kehadapan KH. Ibrahim. Beliau termasuk seorang ulama besar yang cerdas, luas wawasannya, sangat dalam ilmunya dan disegani. Ia hafal (hafidh) al-Quran dan ahli qira'ah (seni baca Al-Quran), serta mahir berbahasa Arab. Sebagai seorang Jawa, ia sangat dikagumi oleh banyak orang karena keahlian dan kefasihannya dalam penghafalan Al-Qur'an dan bahasa Arab. Pernah orang begitu kagum dan takjub, ketika dalam pidato pembukaan (khutbah al-'arsy atau sekarang disebut khutbah iftitah) Kongres Muhammadiyah ke-19 di Bukit Tingi Sumatera Barat pada tahun 1939, ia menyampaikan dalam bahasa Arab yang fasih.
KH. Ibrahim juga memimpin kaum ibu supaya rajin beramal dan beribadah, senantiasa mengingat Allah, rajin mengerjakan perintah agama Islam dan diberi nama Adz-Dzakiraat (Soedja`, 1933: 136). Perkumpulan Adz-Dzakiraat ini banyak memberikan jasa kepada Muhammadiyah dan `Aisyiyah, misalnya banyak membantu pencarian dana untuk Kas Muhammadiyah, `Aisyiyah, PKU, Bagian Tabligh, dan bagian Taman Poestaka.
Pengajian yang diasuh KH. Ibrahim itu memakai metode sorogan dan weton. Pengajian dilaksanakan setiap hari, kecuali hari Jum`at dan Selasa. Dalam menerapkan dua macam metode tersebut, dipakai waktu yang berbeda, yaitu :
- Pada pagi hari mulai pukul 07.00 sampai 09.00 dengan cara sorogan, yaitu mengaji dengan diajar seorang demi seorang/satu persatu, terutama untuk anak-anak muda yang ada di Kauman pada saat itu.
- Pada waktu sore hari sesudah ashar sampai kurang lebih pukul 17.00 dengan cara weton, yaitu cara mengajar mengaji dengan cara Kyai membaca sedang santri-santrinya mendengarkan dengan memegang kitabnya masing-masing.
Semenjak kepemimpinan Ibrahim, kemajuan Muhammadiyah begitu pesat. Muhammadiyah berkembang di seluruh Indonesia, dan meresap di seluruh Jawa dan Madura. Kongres-kongres mulai diselenggarakan di luar kota Yogyakarta, seperti Kongres Muhammadiyah ke-15 di Surabaya, Kongres Muhammadiyah ke-16 di Pekalongan, Kongres Muhammadiyah ke-17 di Solo, Kongres Muhammadiyah ke-19 di Bukittinggi, Kongres Muhammadiyah ke-21 di Makasar, dan Kongres Muhammadiyah ke-22 di Semarang. Dengan berpindah-pindahnya tempat kongres tersebut, maka Muhammadiyah dapat meluas ke seluruh wilayah Indonesia.
Menurut catatan Bapak AR Fachruddin (1991), pada masa kepemimpinan KH. Ibrahim, kegiatan-kegiatan yang dapat dikatakan menonjol, penting dan patut dicatat adalah :
- Pada tahun 1924, Ibrahim mendirikan Fonds Dachlan yang bertujuan membiayai sekolah untuk anak-anak miskin. Pada tahun 1925, ia juga mengadakan khitanan massal. Di samping itu, ia juga mengadakan perbaikan badan perkawinan untuk menjodohkan putra-putri keluarga Muhammadiyah. Dakwah Muhammadiyah juga secara gencar disebarluaskan ke luar Jawa (AR Fachruddin, 1991).
- Pada periode kepemimpinan Ibrahim, Muhammadiyah sejak tahun 1928 mengirim putra-putri lulusan sekolah-sekolah Muhammadiyah (Mu`allimin, Mu`allimat, Tabligh School, Normaalschool) ke seluruh pelosok tanah air, yang kemudian di kenal dengan 'anak panah Muhammadiyah' (AR Fachruddin, 1991).
- Pada Kongres Muhammadiyah di Solo pada tahun 1929, yaitu pada masa kepemimpinannya, Muhammadiyah mendirikan Uitgeefster My, yaitu badan usaha penerbit buku-buku sekolah Muhammadiyah yang bernanung di bawah Majelis Taman Pustaka. Pada waktu itu pula terjadi penurunan gambar Ahmad Dahlan karena pada saat itu ada gejala mengkultuskan beliau. Sementara dalam Kongres Muhammadiyah ke-21 di Makasar pada tahun 1932 memutuskan supaya Muhammadiyah menerbitkan surat kabar (dagblaad). Untuk pelaksanaannya diserahkan kepada Pengurus Muhammadiyah Cabang Solo, yang di kemudian hari dinamakan Adil.
- KH. Ibrahim selalu terpilih kembali sebagai ketua dalam dalam sepuluh kali Kongres Muhammadiyah selama periode kepemimpinannya. Ia lebih banyak memberikan kebebasan gerak bagi angkatan muda untuk mengekspresikan aktivitasnya dalam gerakan dakwah Muhammadiyah. Di samping itu, ia juga berhasil dalam membimbing gerakan Aisyiyah untuk semakin maju, tertib, dan kuat. Ia juga berhasil dalam meningkatkan kualitas takmirul masajid (pengelolaan masjid-masjid), serta berhasil pula dalam mendorong berdirinya Koperasi Adz-Dzakirat.
- Dalam masa kepemimpinannya, Muhammadiyah pernah mengalami fitnah dari pihak-pihak yang tidak suka akan kemajuan Muhammadiyah. Muhammadiyah dan pengurus besarnya dianggap sebagai kaki tangan Politieke Economische Bond (PEB), sebuah organisasi yang dibentuk oleh persatuan pabrik gula yang dimiliki Belanda. Tujun PEB ialah untuk mengatur koordinasi dan kerjasama antar-pabrik gula di Jawa Tengah dan Jawa Timur dalam produksi, pemasaran, dan juga dalam aspek sosial-budaya yang ada hubungannya dengan politik-ekonomi pabrik gula. PEB mendirikan perkumpulan dengan nama Jam'iyatul Hasanah yang bertujuan untuk menghimpun guru-guru agama dan membiayai mereka untuk mengajarkan agama Islam kepada buruh-buruh di pabrik gula. Dengan demikian, fitnahan terhadap Pengurus Besar Muhammadiyah semakin besar karena Pengurus Besar Muhammadiyah dianggap telah bekerjasama dan menerima dana dari PEB yang merupakan kaki-tangan Belanda. Namun fitnahan tersebut bisa diatasi dengan keterbukaan dalam kepemimpinan KH. Ibrahim dengan mengundang para utusan dari cabang-cabang Muhammadiyah untuk memeriksa keuangan dan notulensi rapat di Pengurus Besar Muhammadiyah di Yogyakarta, dan terbukti bahwa fitnahan tersebut tidak benar.
- Pada periode kepemimpinan KH. Ibrahim telah diselenggarakan sepuluh kali Rapat Tahunan Muhammadiyah yang terus-menerus memilihnya sebagai Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah. Mulai tahun 1926, istilah Rapat Tahunan Muhammadiyah diganti menjadi Kongres Muhammadiyah yang bertempat di Surabaya sebagai Kongres Muhammadiyah ke-5.
KH. Ibrahim wafat dalam usia yang masih sangat muda, 46 tahun, pada awal tahun 1934 setelah menderita sakit agak lama. Di bawah kepemimpinannya, Muhammadiyah mengalami perkembangan yang sangat pesat, bahkan pada Kongres Muhammadiyah ke-22 di Semarang pada tahun 1933 (Kongres Muhammadiyah terakhir dalam periode kepemimpinan KH. Ibrahim) cabang-cabang Muhammadiyah telah berdiri hampir di seluruh tanah air
ICMI Tentang Leadership :
Dalam hal ini ICMI bisa belajar dari Nahdlatul Ulama (NU). Di tahun
1980-an, NU secara jam'iyah (organisatoris) berada di persimpangan
yang tidak jelas. Terselimuti secara tumpang tindih antara misi
politik dan kultural. NU nyaris tercabik-cabik oleh konflik yang carut
marut dan tarik menarik kepentingan yang kacau.
Adalah KH Abdurrahman Wahid yang berani melakukan kritik tajam ke
dalam. Kalau saja Abdurrahman Wahid tidak memiliki kapasitas lebih,
ditambah dukungan nasab (turunan) yang kuat-ia cucu pendiri NU KH
Hasyim Asy'ari dan putra salah satu founding fathers Indonesia KH
Wahid Hasyim-barangkali sudah terpental seperti Subchan ZE. Di
internal NU, kritik Abdurrahman Wahid sangat menyakitkan. Tetapi ia
jalan terus dengan prinsip qulil haqqa walau kana murran (sampaikanlah
kebenaran sekalipun pahit). Hasilnya, setelah satu dekade, NU menjadi
organisasi kaum tradisionalis yang dalam banyak hal mencerminkan
modernisme.
Bisa pula ICMI belajar kepada Muhammadiyah. Mantan Ketua Pimpinan
Pusat (PP) Muhammadiyah KH AR Fachruddin pernah mengeluh, perjalanan
Muhammadiyah godal-gadul alias lamban dan maju-mundur. Ia melakukan
kritik amali (perbuatan) dengan menolak dipilih lagi menjadi Ketua PP
Muhammadiyah di Muktamar Yogyakarta tahun 1990.
AR Fachruddin sadar, jargon bahwa di Muhammadiyah tidak ada pensiun,
bukan berarti harus menjadi pengurus atau pimpinan sampai mati. Jargon
itu sering disalahgunakan untuk menjadi pengurus seumur-umur. Ini
memacetkan regenerasi. Menjadikan persyarikatan seperti kumpulannya
orang-orang pikun. AR Fachruddin pun menyerahkan tongkat kepemimpinan
kepada KH Azhar Basyir yang kemudian wafat dan digantikan Amien Rais.
Di tangan Amien Rais, Muhammadiyah mampu merumuskan tajdid di bidang
politik dengan rumusan high politics (politik luhur) yang salah satu
buahnya adalah melengserkan Orde Baru. Soal sepak terjang Amien Rais
setelah tidak lagi memimpin Muhammadiyah, bukan dalam konteks high
politics itu.
Sejarah KAMMI dan Kelahirannya :
| Written by Administrator |
| Friday, 19 October 2007 |
|
FSLDK X diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Malang ( UMM ) pada 25-29 maret 1998. Forum itu dihadiri sekitar 200 orang peserta yang mewakili 69 LDK dari sekitar 64 kampus. Mereka berasal dari kampus-kampus yang ada di jawa, sumatera dan Kalimantan. FSLDK ini mengusung tema ”Pergerakan Mahasiswa Muslim Menuju Transformasi Sosial : upaya peningkatan intelektualitas Aktivitas Dakwah Kampus “Pertemuan yang kepanitiannya ditangani oleh LDK Jamaah AR Fachruddin Universitas Muhammadiyah Malang ( UMM ), menetapkan beberapa sasaran yang ingin dicapai, antara lain : Membangun pemahaman bersama tentang konsep Dakwah Islamiah yang dijalankan para LDK, memperkuat ikatan dan jaringan antara LDK dalam menyikapi krisis bangsa yang sedang terjadi. Untuk pengayaan wawasan para peserta, juga di selenggarakan sesi diskusi panel yang mengahadirkan sejumlah pembicara dari lingkungan LDK.Hal menarik dari sesi diskusi panel ini adalah diundangnya Prof.Dr.Amin Rais dan Letjen Prabowo Subiyanto. Meskipun keduanya berhalangan hadir, tetapi rencana panitia FSLDK X mengundang kedua tokoh ini menarik untuk dicermati. Mengenai Prof.Dr. Amin Rais, alasannya yang dikemukakan adalah mempertimbangkan sikap-sikap kritis yang dilontarkan Amin rais terhadap krisis yang sedang berlangsung dan juga sikap perlawanannya terhadap rezim status quo Orde Baru. Adapun rencana mengundang Letjen Prabowo Subiyanto didasari oleh semangat dialog ABRI-Mahasiswa yang mulai mengemuka pada saat itu. Diharapkan, para peserta FSLDK X bisa menggali pandangan dari petinggi militer terhadap permasalahan yang sedang terjadi dan khususnya bagaimana mereka memandang LDK sebagai kekuatan moral-intelektual mahasiswa muslim. Sidang komisi FSLDK X dibagi dalam komisi politik, Ekonomi, Budaya, Pers dan Jaringan Islam Indonesia. Dari sidang komisi Ekonomi dihasilkan rumusan untuk mensosialisasikan ide Ekonomi Islam yang berorientasi kepada ekonomi kerakyatan, baik dilingkungan kampus maupun ditengah masyarakat. Dari sidang komisi Budaya salah satu rumusan pentingnya adalah tuntutan untuk menciptakan birokrasi yang bersih, jujur, adil dan berwibawa serta menghapuskan budaya korupsi, kolusi dan nepotisme. Adapun komisi politik secara prinsip sepakat bahwa krisis yang sedang terjadi merupakan momentum bagi FSLDK untuk mengemukakan sikap-sikap politiknya secara jelas dan tegas, agar eksistensi FSLDK diakui masyarakat. Salah satu poin menarik dari komisi Politik ini adalah prediksi tentang kekacauan politik yang mungkin terjadi menyusul semakin panasnya kondisi politik nasional. Lalu komisi ini merekomendasikan perlunya LDK melakukan langkah-langkah antisipasi dalam mengahadapi kemungkinan terjadinya kekacauan politik ini. Gagasan Pembentukan KAMMI Seperti disebutkan diatas, diskusi dalam sidang-sidang komisi ternyata diwarnai pembahasan hangat tentang perlunya LDK menyikapi situasi sosial politik yang sedang berkembang. Perdebatan seru muncul pada tataran operasional yaitu bagaiman LDK mewujudkan sikap pandangnya terhadap permasalahan bangsa yang terjadi, tanpa menyeret lembaga ini kedalam pusaran politik praktis. Akhirnya diambil inisiatif jalan tengah, yaitu melanjutkan pembahasan mengenai hal ini diluar forum FSLDK yang sudah terjadwalkan sejak semula. Jalan ini diambil karena sejak awal, panitia tidak secara khusus mengagendakan tema ini. Namun kuat respon para peserta agar LDK menyikapi perkembangan krisis nasional yang sedang terjadi, membuat para pemimpin sidang memutuskan jalan tengah ini.
Menindaklanjuti jalan tengah ini, dibentuklah tim formatur yang beranggotakan 8 (delapan ) orang dari peserta. Mereka adalah :
1. Arianto Pratikno ( ketua Jamaah AR Fachruddin UMM 1997/1998 ), sebagai ketua tim.
2. Badaruddin ( Ketua Forkom LDK Unair 1998/1999 )
3. Andri Yunita Kusumawati ( Forkom LDK Unair )
4. Edi Chandra ( DKM Al-Ghaifari IPB )
5. Faizal Sanusi ( Ketua Kerohanian Islam SM UI 1996/1997 )
6. Muhammad Arif Rahman ( Ketua Jamaah Shalahuddin UGM )
Tugas utama tim formatur ini adalah membahas dan memformulasikan bentuk respon LDK terhadap krisis nasional yang terjadi. Sementara tim ini bekerja, agenda-agenda FSLDK juga terus menjalani sesuai agenda yang telah direncanakan sebelumnya. Kerjanya tim formatur ini menyikapi 2 hal penting yaitu :
1. Sepakat untuk membentuk sebuah wadah khusus bagi para aktivis LDK diluar nasional yang semakinparah, termasuk pada tataran aksi.
2. Sepakat untuk mendeklarasikan wadah baru ini setelah selesainya acara FSLDK X, sehingga wadah ini bukan sebagai salah satu keputusan FSLDK X, tetapi kesepakatan para peserta yang terjadi bersamaan dengan berakhirnya penyelenggaraan FSLDK X.
Tim formatur ini juga sampai pada kesepakatan bahwa wadah ini bernama Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia ( KAMMI ), dengan mendudukkan Fahri Hamzah sebagai ketua umum dan Haryo Setyko sebagai sekretaris umum. Wadah ini kemudian dideklarasikan pada hari ahad, tanggal 29 maret 1998 atau bertepatan 1 Dzulhijjah 1418 H, jam 13.30 wib di Aula Universitas Muhammadiyah Malang (UMM ), beberapa setelah FSLDK X secara resmi ditutup oleh pembantu Rektor 2 UMM. Hasil-hasil keputusan tim formatur dibacakan oleh Ananto Pratikno, ketua Jamaah AR Fachuddin UMM, dihadapan peserta FSLDK nasional X yang saat itu masih tetap berkumpul diruangan. Setelah itu, deklarasi pendirian KAMMI yang tertuang dalam “Deklarasi Malang “ dibacakan oleh Fahri Hamzah yang mendapat amanah sebagai Ketua Umum, dan setelah itu dilakukan penandatanganan piagam deklarasi malang oleh sebagian besar peserta yang hadir.
Kelahiran KAMMI sudah merupakan keniscayaan. Sudah terlalu lama mesjid kampus bergolak, menuntut partisipasi. Para aktifisnya sudah tidak tahan dengan kezaliman rezim Orde Baru yang otoriter. Sebagaimana kita ketahui, pada awal 1980-an setelah pemerintaj melakukan represi luar biasakepada gerakan mahasiswa, muncullah berbagai mesjid dikampus-kampus besar seperti Salman di ITB, Arief Rahmah Hakim di UI, Jama’ah Salahuddin di UGM dll. Masjid kampus semacam ini, dari hari kehari bertambah jumlahnya, dan bertambah pula aktifitasnya. Hal ini kemudian menjadi pola yang fenomental pada awal 90-an… beberapa pengamat gerakan mahasiswa menyebutnya sebagai gerakan mahasiswa yang religius, gerakan ini ditandai oleh kentalnya warna agama ( islam ) dalam setiap kegiatan dan penampilan aktifisnya. Tak lama setelah dideklarasikan, KAMMI melakukan gebrakan aksi perdananya yang mengejutkan, yaitu “ Rapat Umum Mahasiswa dan Rakyat Indonesia “ dilapangan Masjid Al-Azhar, Jakarta, pada tanggal 10 april 1998. Andi Rahmat menyebutkan lima alasan kenapa Aksi perdana ini menjadi fenomenal dan mengejutka, yaitu : v Jumlah massa Aksi yang hadir tergolong besar, yaitu sekitar 20 ribu orang.v Aksi tersebut merupakan Aksi pertama mahasiswa yang dilakukan diluar kampus.v Aksi massa besar diluar kampus itu ternyata berjalan secara tertib dan aman.v Isu utama yang diangkat adalah “ Reformasi Total “ sebagai jalan penyelesaian krisis.v Ini merupakan Aksi pertama mahasiswa yang mampu memobilisasi dan mengkonsolidasi massa rakyat. Dalam aksi ini hadir ibu-ibu rumah tangga, buruh-buruh korban PHK, dan beragam unsur lainnya.
|
| Last Updated ( Saturday, 20 October 2007 ) |
KIprah GUSDUR dan AR FACHRUDDIN Dalam Menyelematkan ORGANISASI
diambil dari Website Mail-Archieve :
Buat sekedar memahami saja kenapa posisi Gus Dur dianggap
> sakral di NU.
>
> Pada masa pra kemerdekaan dan orla ada banyak organisasi
> Islam yang kuat selain NU dan Muhammadiyah , diantaranya
> Persis , Persatuan Syarekat Islam , Persatuan Tarbiyah Islam
> (PERTI) , PUI dll.
>
> Anda semua disini bisa lihat mayoritas organisasi itu jadi kerdil
> pada masa orba.Apalagi SI yang begitu mencorong di masa
> pergerakan kemerdekaan karena menguasai jaringan dan asset
> asset ekonomi pribumi muslim bersaing ketat dengan jaringan
> milik cina keturunan.Rasanya muslim Indonesia sekarang mungkin
> nggak pernah dengar nama mayoritas organisasi Islam di atas,
> kecuali yang pernah duduk di bangku madrasah atau pesantren
> dan belajar sejarah Islam nusantara.
>
> Tapi kenapa ada dua organisasi Islam yang survive di masa
> orba (NU dan Muhammadiyah) bahkan menjadi lebih besar.
> Berdasar teori Darwin , bukan yang terkuat , terkaya atau
> yang terpintar yang akan bertahan hidup tapi yang paling mampu
> menyesuaikan diri dengan keadaan.
>
> Di Muhammadiyah punya A.R Fachruddin , sementara NU
> punya Gus Dur , dua tokoh inilah yang menyelamatkan kedua
> organisasi Islam tersebut dari tekanan politik penguasa orba.
>
> NU ditekan karena dianggap bagian dari rezim Nasakom
> orde lama , makanya jabatan Mentri Agama pada masa awal
> sampai menjelang akhir Orba haram diisi orang NU.Bahkan
> tekanan kekerasan juga dialami NU , diantaranya isu Komando
> Jihad yang dijadikan alasan bagi pemerintah dan ABRI yang
> dibawah komando L.B Moerdani buat menangkapi dan
> membunuh ribuan kyai dan santri utamanya di Jawa Timur
> (padahal Komji sendiri -yang kemudian diketahui rekayasa
> intelejen-adanya di jawa Tengah).
>
> Muhammadiyah juga dikebiri semua potensi ekonominya ,
> karena keterlibatan Muhammadiyah dalam Masyumi.Persis
> gagal survive karena tokoh mereka lebih konsentrasi ke
> politik jadi itu jadi alasan untuk mengebiri mereka.Sementara
> Muhammadiyah keluar politik dan fokus pada pembangunan
> jaringan amal seperti Rumah Sakit , Sekolah , Panti Asuhan
> dll dan menjaga jarak dengan kekuatan politik ,utamanya di
> masa A.R Fachruddin.
>
> Dan disini jugalah posisi Gus Dur, dia mampu ber zig-zag
> dengan baik di masa tekanan pada NU sedemikian hebatnya.
> Dia mengajak L.BMoerdani jalan-jalan ke pesantren dan
> ini ternyata cukup efektif menghentikan pembantaian para
> kyai.Dia juga berhasil memainkan politik tarik ulur politik
> dengan pemerintah.Itulah sebabnya figur dia cukup dihormati
> oleh kalangan nahdiyin karena bila tidak ada seorang Gus Dur
> nasib NU mungkin sama dengan nasib PSII atau Persis yang
> jadi organisasi kerdil.
>
> Mungkin kalangan aktivis muda saat ini tidak tau betapa
> hebatnya tekanan pada masa itu pada aktivis Islam.Menjadi
> aktivis Islam bahkan yang moderat sekalipun pada masa itu
> sangat sulit, sewaktu-waktu anda bisa dipanggil ke koramil,
> dikuntit intel dll.Sebagai contoh anda sholat aja di masjid
> Istiqamah Bandung pada masa itu , bisa jadi besoknya anda
> akan langsung lenyap.
>
> Makanya saya sering muak dengan yang mengaku aktivis
> Islam pada masa sekarang tapi kerjaannya cuma menyerang
> saudara sendiri seagama , seenaknya menuduh kafir , memfitnah
> dll.Media yang dianggap "Islami" isinya lebih banyak pada
> hasutan kebencian pada komponen Islam lain.
>
> Yang cukup lama aktif di pergerakan Islam pasti tau metode
> buat menghantam dan menghancurkan gerakan Islam pada
> masa orba justru dengan memamfaatkan jaringan kelompok
> radikal, organisasi yang isinya orang-orang yang merasa
> dialah yang paling Islam.
>
> Di masa tekanan pada kelompok Islam sedemikian kuatnya
> apa mungkin orang-orang radikal ini gak pernah ditangkapi..?
> kalau menurut logika harusnya kan mereka sudah dilenyapkan
> dari dulu , tapi kenapa mereka tenang-tenang saja gak pernah
> ditangkap dan dipenjara.Tapi tiba-tiba pada masa reformasi
> jadi pahlawan kesiangan lalu mengklaim paling memihak dan
> membela ummat Islam .
Imam Masjid Ikut Demonstrasi
Yogya, Bernas Aksi unjuk rasa masyarakat Yogya Jumat (1/5) berlangsung di halaman Masjid Besar Kauman, Alun-alun Utara. Sekitar 1.000 orang terdiri jamaah salat Jumat, mahasiswa, pelajar, termasuk anak-anak dan warga sekitar Kauman, Yogya, usai salat Jumat hingga pukul 14.50 WIB berkumpul dalam aksi menuntut refor- masi politik dan ekonomi di halaman Masjid Besar Kauman.
Sementara puluhan mahasiswa Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY) yang tergabung dalam Solidaritas Mahasiswa untuk Kedaulatan Rakyat (SMKR), kemarin gagal berarak menuju Keraton Yogyakarta.
Blokade petugas keamanan di gerbang kampus, menyebabkan mereka tak bisa melanjutkan niatnya menemui Sri Sultan HB X sebagai Ketua Yayasan UWMY.
SMKR juga mengkoordinasikan unjuk rasa di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) di sepanjang Jalan HOS Cokroaminoto, sebagaimana aksi yang digelar mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) di depan kampus Jalan Tamansiswa 158 Yogyakarta.
Demonstrasi juga meletus di IKIP Jakarta, dan kampus-kampus di Bandung. Sedangkan di Sumatera, Universitas Lampung (Unila) kembali marak. Malah, aksi berlangsung dalam dua gelombang yakni sebelum dan setelah salat Jumat.
Kekerasan meletus lagi di Medan, ketika para mahasiswa Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) bentrok dengan petugas keamanan. Para mahasiswa me- lempari petugas dengan batu, sebagai balasan atas semburan gas air mata.
Sedangkan di Padang, para mahasiswa menumpahkan unek-uneknya di Taman Makam Pahlawan, karena mereka menganggap wakil-wakil rakyat masa kini sudah tak lagi menyuarakan aspirasi.
Hujan, terus
Unjuk rasa di Kauman terus berlangsung meski sempat diguyur gerimis selama sekitar 1 jam. Di sini, para ibu warga Kauman menyediakan sekitar 1.000 kantung plastik air minum berupa sirup dan teh.
Pada aksi yang dimotori Angkatan Muda Muhammadiyah Kauman ini, berbicara di mimbar Imam Masjid Kauman KH Haiban Hadjib.
Selain Haiban, berpidato seorang ibu warga Kauman, Mardiyem alias Momoye (mantan Jugun Ianfu - wanita yang dijadikan budak nafsu seks oleh tentara Je- pang-red), Ketua SM UGM Ridaya La Ode Ngkowe, dokter Fauzi AR Fachruddin (anak almarhum AR Fachruddin, Ketua PP Muhammadiyah-red) dan Ketua SM UII Ridwan Baswedan dan dosen UII Busro Muqoddas.
Mereka mendukung apa yang selama ini diteriakkan mahasiswa melalui aksi- aksinya yang telah berlangsung terus-menerus selama lebih dari dua bulan di berbagai tempat.
Dalam pidatonya, Imam Masjid Kauman antara lain mendukung aksi-aksi yang dilakukan mahasiswa karena mahasiswa menyerukan perubahan ke arah yang lebih baik. Apa yang dilakukan mahasiswa, katanya, termasuk dalam kerangka amar ma- 'ruf nahi munkar karena di dalamnya menuntut dihapuskannya keburukan-keburukan dan penyelewengan.
"Jangan takut untuk berjuang menegakkan kebenaran. Tempat ini, dulu, merupakan saksi para pejuang menyiapkan perjuangannya melawan Jepang!" tegas Haiban Hadjib disambut pekik "Allahu Akbar".
Mardiyem alias Momoye selain mendukung aksi mahasiswa juga minta dukung- an agar usahanya menggugat pemerintah berkaitan ganti rugi bagi para mantan Jugun Ianfu berhasil.
"Saya setuju aksi-aksi mahasiswa. Dan kalau berjuang jangan kendor. Jangan tanggung-tanggung. Saya dan teman-teman sesama bekas Jugun Ianfu terus berjuang agar memperoleh ganti rugi. Katanya ganti rugi yang sudah diberikan oleh Jepang digunakan untuk kepentingan lain. Kami cuma minta, agar dana itu tidak dibelok-belokkan penggunaannya. Saya minta dukungan saudara-saudara," ujar Mardiyem.
Solo
Di Solo, aksi unjuk rasa yang digalang oleh Solidaritas Mahasiswa Peduli Rakyat (SMPR) berlangsung di boulevard Universitas Sebelas Maret (UNS), Jumat (1/5). Aksi yang melibatkan eksponen pelajar, buruh dan pengamen itu, semakin keras dan tegas bersama-sama menyerukan tuntutan reformasi politik dan ekonomi.
Hadir dalam acara itu Ketua DPC PPP Solo, Moedrick SM Sangidoe. Se- mentara Tim Pencari Fakta DPP Ikadin, yang dikoordinasi Sudjono SH, memantau aksi.
Berlangsung di bawah guyuran air hujan, aksi itu juga disemarakkan oleh dua buah spanduk yang dibentangkan di seberang jalan, terpampang ke arah peserta unjukrasa.
Spanduk dari DPC PPP Solo yang berbunyi: Dukung aksi mahasiswa menuntut reformasi ekonomi dan politik. Dan sebuah spanduk sederhana berbunyi Rakyat Sudah Punya Sembako (Semangat Melibas Koruptor), yang dibuat oleh warga masya- rakat.
Dalam kesempatan itu, tampil memberikan orasi dari kalangan pelajar yang tergabung dalam Aksi Pelajar Indonesia (API), pengamen, buruh wanita, dan Moedrick Sangidoe.
Moedrick menyatakan, agar rakyat dan mahasiswa, serta pelajar bersatu menyuarakan tuntutan reformasi. Dikatakannya, dalam melaksanakan reformasi harus pula ada pergantian pemimpin nasional.
Di Semarang, kemarin, 50 pemuda dan pemudi yang menamakan diri dalam Forum Kebangsaan Pemuda Indonesia Semarang, (gabungan dari GMNI, PMII, PMKRI, GMKI, Pemuda Katolik) melakukan unjuk rasa di DPRD Jawa Tengah. Setelah berorasi di halaman, kemudian berdialog dengan beberapa anggota dewan di ruang serba guna.
Mereka menuntut pertanggungjawaban rezim Orde Baru, yang diwujudkan dalam pemurnian kembali pekaksanaan Pancasila dan UUD 45 secara murni dan konsekuen. Juga pertanggungjawaban atas terjadinya krisis ekonomi, politik, moral.
Aksi juga berlangsung di Purwokerto, Jumat kemarin, di depan gedung rektorat kampus Universitas Jenderal Soedirman. Aksai damai yang dikoordinasi Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) ini, diikuti sekitar 500 orang. (ded/ff/kun/ii/ptg/ran/jj/ss/ant)
KISAH ULAMA JUALAN BENSIN
http://kemha.blogspot.com/2005/09/ulama-jualan-bensin.html
nurtria.net
Muhammadiyah pernah memiliki ketua umum luar biasa secara integritas
moral. Namanya AR Fachruddin (kini almarhum). Ulama yang biasa
dipanggil Pak AR ini sangat jujur dan memiliki kepribadian zuhud.
Suatu ketika ia datang ke Malang. A Malik Fadjar (kini mendiknas) yang
kala itu menjabat rektor Universitas Muhammadiyah Malang menyalami
uang Pak AR sekian juta. Uang itu diterima. Namun beberapa hari
berselang datang surat berisi kwitansi pembayaran berkop panti asuhan
anak yatim. Ternyata uang sekian juta dari Pak Malik Fadjar itu oleh
Pak AR diterima bukan untuk dinikmati pribadi. Tetapi disumbangkan
kepada panti asuhan anak yatim. Sedang kwitansi pembayarannya
dialamatkan langsung kepada si pemberi (Malik Fadjar). Luar biasa.
Pak AR memang profil ulama sederhana dan hidup apa adanya. Sebagai
ketua umum PP Muhammadiyah sebenarnya ia bisa “menjual” posisinya
untuk mengeruk uang dengan berbagai dalih. Atau posisinya yang
bergengsi itu bisa untuk bargaining position demi meraih jabatan
politik. Namun tampaknya ia bukan tipe orang aji mumpung. Pak AR
tampaknya meresapi betul pesan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.
Kiai Ahmad Dahlan berpesan: hidup-hidupilah Muhammadiyah, tapi jangan
cari penghidupan atau kehidupan di Muhammadiyah.
Karena itu Pak AR lebih suka memberi teladan sederhana, menjauhkan
sikap tinggi hati dan gengsi. Lihat saja kehidupan sehari-harinya. Di
depan rumahnya ia jualan bensin. (Harap dicatat, jualan bensin di sini
bukan SPBU (pom bensin) seperti Taufik Kiemas yang memiliki nilai
miliaran rupiah. Atau seperti anggota dewan dan kiai yang sering
diplesetkan tongkatnya bisa muncrat bensin karena memiliki banyak pom
bensin di mana-mana). Pak AR jualan bensin dalam pengeritan eceran
sesungguhnya seperti umumnya rakyat kecil di pinggir jalan .
Itu di Muhammadiyah. Di NU juga ada seorang kiai tak kalah nylenehnya.
Kiai yang enggan dipublikasikan ini dikenal sebagai kiai rohani, bukan
kiai syariah. Ia tak mau menghakimi orang lain dengan dalil agama.
Apalagi mencekal kreativitas kehidupan agama. Hidupnya juga sangat
bersahaya, namun jiwanya luar biasa kaya. Ia diyakini memiliki
keistimewaan kasyaf, weruh sa’durungi winarah. Maka mudah dipahami
jika para pejabat belomba ingin sowan ke rumah kiai unik ini. Namun
jangan dikira mudah menemuinya. Setinggi apapun jabatannya jika kiai
ini tak berkenan, ia akan pulang hampa.
Yang lebih menakjubkan, ia banyak membiayai studi anak-anak muda NU
sampai lulus sarjana. Konon, telah banyak sekali sarjana berkat
pertolongan biaya dari kiai ini.Yang juga unik, ia sering mentransfer
uang ke anak muda NU yang lagi kesulitan ekonomi. Entah bagaimana
caranya ia kok bisa mengetahui kesulitan orang. Padahal anak itu tak
minta dan tinggal jauh di kota Jakarta. Tiba-tiba kiai ini mentransfer
tanpa sepengetahuan anak tersebut. Tercatat beberapa anak muda NU yang
sering menerima tranfer uang dari kiai eksentrik ini. Jiwa sosial kiai
ini memang patut diteladani. Meski ia punya banyak kekayaan tapi ia
tak ingin menimbun untuk kesenangan pribadi. Ia tampaknya bertekad
untuk menjadikan hidupnya seperti hadits Nabi Muhammad SAW: yadul ulya
(tangan di atas, pemberi), bukan yadussufla (penerima atau penadah).
Memang, keistimewaan tokoh atau ulama berbeda-beda. Ada yang tahan
godaan, tidak terperosok pada hubbuddunya seperti Pak AR. Ada pula
yang berjiwa sosial tinggi seperti kiai NU yang tak mau dikorankan.
Namun banyak pula yang gagal menjalankan fungsi keulamaan, meski
disebut tokoh agama. Mereka tak tahan godaan, juga tak punya jiwa
sosial. Ironisnya, kadang mereka tak merasa kalau dirinya telah gagal.
Bahkan sambutan masyarakat yang mulai hambar tak ia rasakan.
Kepekaannya sudah hilang. Tren kehidupan di lingkungan wartawan juga
sama. Ada wartawan yang sikap hidupnya mirip prinsip Pak AR. Ia
menolak keras amplop (uang) dari nara sumber. Ia memang sangat
idealis. Namun ia kadang kesulitan menolak karena lembaga atau nara
sumber sudah menyiapkan. Karena terpaksa biasanya ia terima juga.
Namun uang itu kemudian ia salurkan ke yayasan atau panti asuhan. Nah,
tanda terima atau kwitansi dari yayasan itu kemudian ia kirimkan
kepada lembaga si pemberi amplop melalui pos.
Kita kadang memang dihadapkan pada pilihan dilematis. Pada satu sisi
kehidupan konsumerisme luar biasa menggoda. Namun pada sisi lain kita
juga harus menjaga kehalalan uang yang kita terima. Sebab uang yang
kita peroleh untuk nafkah keluarga. Kita tentunya tak rela uang haram
masuk ke dalam tubuh anak-anak kita. Situasi ini sangat berat, apalagi
bagi mereka yang hidup di kota. Namun saya lalu ingat wejangan KH
Adlan Aly (almarhum) ketika ikut ngaji kitab kuning. Kiai ahli tarikat
(sufi) ini menyatakan bahwa sulit mencari makanan yang betul-betul
halal murni, tanpa kontaminasi. “Yang murni hanya air hujan yang
langsung datang dari atas, ” katanya. Meski demikian bukan berarti ini
lalu bisa kita pakai sebagai pembenaran untuk tidak hati-hati.
Setidaknya wejangan ini membuat jiwa kita lebih arif dan tak terlalu
resah.
Oleh: M Mas’ud Adnan*
http://www.nu.or.id
Amien Rais dan Siswono Yudohusodo
Submitted by ISAI webeditor on Fri, 23/11/2007 - 12:55pm.
PROFIL AMIEN RAIS Sebuah majalah pernah menjulukinya sebagai King Maker. Julukan itu merujuk pada besarnya peran Amien Rais dalam menentukan jabatan presiden pada Sidang Umum MPR 1999 dan Sidang Istimewa 2001. Padahal, perolehan suara PAN, partainya, tak sampai 10% dalam Pemilu 1999.
Cita-cita Amien waktu kuliah di Fakultas Sosial Politik Universitas Gajah Mada Yogyakarta ingin menjadi diplomat. Selesai tahun 1968, ia melanjutkan studi ke Notre Dame Catholic University di Indiana, AS. Sebelum itu ia sempat mengenyam setahun menjalani penelitian di Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir, sebagai siswa tamu. Di Notre Dame, ia juga mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan Uni Sovyet dan Eropa Timur. Ia lulus dari universitas ini 1974.
Sebelum dunia politik nasional mengenal Amien, ia sudah malang melintang di dunia pendidikan dan organisasi massa keagamaan. Dari almamaternya, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, dia dianugerahi penghargaan sebagai guru besar di bidang ilmu politik pada 10 April 1999. Saat itu dia berpidato dengan judul pidato Pengukuhan Kuasa, Tuna Kuasa, dan Demokratisasi Kekuasaan.
Amien dibesarkan dalam keluarga guru yang peduli dengan pendidikan. Ia lahir di Solo, 26 April 1944, dari pasangan H Syuhud Rasyid dan Sudalmiyah. Syuhud sejak kecil sudah dikirim ayahnya, Umar Rais, untuk belajar di Madrasah Mualimin Muhammadiyah Yogyakarta. Saat lulus, Syuhud langsung mengajar di sekolah-sekolah Muhammadiyah di berbagai kota di Indonesia, seperti Palembang, Pare-pare, dan Pekalongan. Di Pekalongan inilah Syuhud bersahabat karib dengan Muhammad Adnan, ayah Adi Sasono, mantan Ketua Umum ICMI.
Sudalmiyah, putri dari Wirjo Soedarmo yang punya nama kecil Sukiman, berasal dari Gombong. Ibu Sukiman, Nyonya Rakilah, cicit dari Bupati Kebumen. Ia aktif di Aisyiyah, sayap perempuan Muhammadiyah setelah sebelumnya sering mendengar ceramah Kiai Ahmad Dahlan di Jakarta. Setelah lulus dari Hogere Indlandse Kweekschool, ia langsung menjadi guru di sekolah Muhammadiyah.
Amien sendiri merupakan anak kedua dari enam bersaudara. Sedangkan masa kecilnya dihabiskan di Kepatihan Kulon, Solo. Sebuah wilayah yang sebagian besar penduduknya bisa dikatakan sebagai “Islam Abangan”. Tidak heran kalau keluarga ini menjadi salah satu keluarga yang disegani masyarakat sekitar.
Sejak kecil, orangtua Amien sudah mengajarkan pada anak-anaknya agar bangun pagi, shalat tepat waktu, banyak membaca, serta berbudi pekerti baik. Dari lingkungan, Amien banyak belajar tentang realitas masyarakat. Dia sangat dekat dengan kondisi keluarga miskin, di kampung sederhana. Sangat tahu betul bentuk ruang tidur, bahkan dapurnya.
Ketika usia SD dan SMP, selain belajar di sekolah umum Muhammadiyah, ibunya mengirimkan Amien ke Madrasah Ibtidaiyah Mambaul Ulum untuk belajar keagamaan. Begitu juga ketika di SMP, ibunya juga mengirimkan Amien belajar di Madrasah Tsanawiyah Khususiyah Al-Islam. Namun, ketika di SMA, Amien tidak lagi belajar dobel di madrasah.
Salah satu kegiatan ekstrakurikuler yang diikutinya di luar jam sekolah adalah Hisbul Wathon. Sebuah organisasi kepanduan yang ada di lingkungan Muhammadiyah. Di Hisbul Wathon ini pula Amien berkenalan dengan Hari Sabarno yang sekarang menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri.
Rumah Haji Asdi Narju, yang menjadi tempat kosnya selama tiga tahun pertama di Yogyakarta, letaknya tidak jauh dari Masjid Agung. Di masjid ini pula Kiai Ahmad Dahlan pertama kali membuat revolusi pemahaman beragama. Di masjid tersebut Amien berinteraksi dengan tokoh Muhammadiyah AR Fachruddin dan berkenalan dengan ilmu agama. Namun, ilmu agama secara sistematis diperolehnya di Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Di IAIN inilah Amien berkenalan dengan para intelektual Muslim, seperti Prof Mukti Ali dan Dawam Rahardjo, yang akhirnya membentuk kelompok diskusi limited group. Sebuah kelompok diskusi yang punya pengaruh cukup besar saat itu.
Pengalaman menuju puncak di Muhammadiyah menjadi terbuka ketika dia terpilih sebagai anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam Muktamar Muhammadiyah ke-41 di Solo pada Oktober 1985. Kemudian dia diserahi tugas sebagai ketua majelis tarjih yang menangani soal fatwa. Lima tahun kemudian, dalam muktamar Muhammadiyah, nama Amien mulai disebut sebagai pesaing kandidat pucuk pimpinan Muhammadiyah. Amien hanya kalah tipis dari Azhar Basyir yang mendapat dukungan suara 997, sementara Amien 994.
Tahun 1993, di depan peserta tanwir Muhammadiyah, Amien mulai melemparkan pikiran tentang perlunya suksesi pimpinan nasional. Suatu hal yang masih sangat tabu pada saat itu. Pasalnya, hampir tidak ada orang yang berani mengusik ketenangan Soeharto dari kursi kekuasaannya. Ketika Azhar Basyir meninggal tahun 1994, Amien pun ditunjuk sebagai pengganti sampai kongres mendatang.
Karena sikap kritisnya pada Soeharto, banyak yang meragukan Amien akan terpilih sebagai ketua umum dalam Muktamar Muhammadiyah tahun 1995 di Aceh. Hasilnya justru menunjukkan kebalikan, bahkan Amien menang dengan dukungan suara hampir mutlak, 98,5 persen. Sebuah dukungan tertinggi dalam sejarah Muhammadiyah, dan berhasil mengangkat pamor Muhammadiyah di tingkat nasional.
Ketika reformasi mulai bergulir, 22 Agustus 1998 Amien meninggalkan kursinya di Muhammadiyah untuk terjun ke politik dengan membentuk partai baru. Sehari kemudian Amien mendeklarasikan berdirinya Partai Amanat Nasional (PAN). Pada 1998 Amien pernah menanggapi pernyataan Menteri Dalam Negeri R Hartono yang menyatakan akan memulai reformasi pada 2003. Bagi Amien, kalau memang ingin melakukan reformasi tak perlu menunggu hingga tahun 2003. “Reformasi sekarang saja,” ucapnya.
Pada saat itu demonstrasi secara sporadis sudah mulai terjadi. Empat mahasiswa Universitas Trisakti menjadi korban dan tewas tertembak pada 12 Mei 1998. Kematian ini pula yang kemudian memancing kemarahan dan amuk massa. Akibatnya, berjatuhan korban manusia dan harta yang tidak sedikit. Akhir dari pergulatan ini, Soeharto mengundurkan diri dari kursi kekuasaannya pada 21 Mei 1998.
Pada era menjelang keruntuhan Orde Baru, Amien adalah cendikiawan yang berdiri paling depan. Tak heran ia kerap dijuluki Loko Reformasi. Akhirnya setelah terlibat langsung dalam proses reformasi, Amien membentuk Partai Amanat Nasional (PAN) pada 1998 dengan platform nasionalis terbuka. Ketika hasil Pemilu 1999 tak memuaskan bagi PAN, Amien masih mampu menjadi ketua MPR.
Posisinya tersebut membuat peran Amien begitu besar dalam perjalanan politik Indonesia saat ini. Pada 1999, Amien memang urung maju dalam pemilihan presiden, tapi pada 2004 ini, ia berniat all out untuk tampil sebagai RI-1. Namun sayang, perolehan suara hanya menempatkannya di urutan ketiga.
PROFIL SISWONO YUDOHUSODO
Akhirnya Siswono Yudohusodo menjadi pendamping Amien Rais. Padahal sebelumnya dia adalah kandidat presiden koalisi partai yang tak memenuhi treshold.
Pada masa era kepemimpinan Presiden Soeharto, ia dua kali menjabat sebagai menteri, Menteri Negara Perumahan Rakyat (1988-1993) dan Menteri Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan (1993-1998). Ia adalah Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI).
Siswono adalah satu dari dua kandidat calon wakil presiden dari kalangan pengusaha, pernah jadi anggota kabinet dan kini aktif mengurusi organisasi petani, serta lantang menyuarakan kepentingan kelompok masyarakat yang makin terpinggirkan di tengah gelombang perubahan besar saat ini.
Sebagai pengusaha, Siswono memulainya benar-benar dari bawah. Pria kelahiran Long Iram, Mahakam, Kalimantan Timur, 4 Juli 1943, ini bukan menjadi pengusaha karena faktor keturunan. Ayahnya adalah seorang dokter yang bekerja di pedalaman Kalimantan, beberapa kota di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat. “Jadi, malang melintang di berbagai kawasan dan pedalaman bukanlah hal aneh buat saya,” ujar Siswono.
Sebelum memutuskan menjadi pengusaha, Siswono punya catatan soal aktivitasnya semasa mahasiswa. Selain di organisasi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Siswono adalah Wakil Komandan Barisan Soekarno, sebuah organisasi massa pembela Bung Karno. Dan, itu dilakukannya di era di mana gerakan Angkatan 66 justru tengah marak berusaha menumbangkan Bung Karno, dan Siswono kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) sarang penentang Bung Karno.
Itu sebabnya, ketika gerakan Orde Baru sukses menumbangkan Bung Karno, Siswono sempat masuk penjara, ditahan oleh penguasa militer dan diskors satu semester dari ITB. Semasa menjalani skors itulah, Siswono mencari uang dengan memulai usaha berdagang hasil bumi, seperti bawang merah dan sayuran. Dia lalu membuat usaha mebel dan belakangan masuk ke bidang kontraktor.
Sebagai mantan loyalis Bung karno, memang agak mengejutkan ketika pada 1988 dia justru diangkat sebagai Menteri Negara Perumahan Rakyat oleh Soeharto. Rupanya Soeharto justru melihat talentanya sebagai orang yang gigih berusaha, berkutat di bidang perumahan murah.
Siswono menjadi sosok yang bukan cuma makin kuat dengan idealisme, tapi punya kekuasaan mewujudkannya. Sikap kerakyatannya mewujud makin jelas. Dia pacu tabungan perumahan pegawai negeri, dia tebar rumah sederhana, rumah sangat sederhana di mana-mana, dia gelar kapling siap bangun. Begitu juga saat menjadi Menteri Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan, dia hidupkan transmigrasi swakarsa mandiri. Memberdayakan rakyat adalah obsesinya.
Dia hidup dengan idealismenya sendiri. Dan itu tak hilang ketika dia menjadi pejabat negara. Meski ketika dia berbisnis kadang harus mengikuti aturan main bisnis, Siswono tidak larut, tidak terhanyut. Begitu menjadi Menteri Perumahan Rakyat, Siswono langsung mencoret PT Bangun Cipta Sarana dari daftar rekanan dan dari kegiatan proyek pembangunan Perum Perumnas. Padahal, perusahaan Siswono justru dikenal sebagai jagonya perumahan rakyat. Bahkan, perusahaan itu juga dicoret dari proyek pembangunan Gelora Senayan dan Kemayoran karena Siswono menjadi Wakil Ketua Yayasan.
Ketika menjadi Menteri Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan, dia juga mendepak perusahaan
Komentar anda telah disetujui!
Kosongkan komentar
Cek kode validasi!
Komentar anda akan segera muncul setetelah disetujui oleh pemilik blog.
Komentar anda terdiri dari terlalu banyak link
Error, silahkan coba lagi.
|
Komentar terakhir
@*dtcomment*@@*titolopost*@
@*nome*@