Jurus Politik Helm [AR Fachruddin]
by e_parkir (27/01/2008 - 07:43)
Jurus Politik Helm
from : http://202.155.15.208/koran_detail.asp?id=90459&kat_id=185&kat_id1=&kat_id2=
"Priiit, ... mulai!" Motor Yamaha bebek butut tahun 70-an warna oranye yang telah luntur meluncur pelan. Menjelang deretan tonggak kayu yang harus dilewati zig-zag, pengendaranya turun. "Lho, kok dituntun, Pak?" tegur polisi penguji SIM. "Ya, kalau ada jalan seperti ini memang saya pilih turun, daripada jatuh." Semua yang mendengar jawaban polos kakek berbadan besar, berkulit hitam dan berkacamata itu tertawa, tak terkecuali polisi dari Satlantas, Yogyakarta.
Demikian Kiai Haji Abdur Rozak Fachruddin, alias Pak AR, ketika memperbarui SIM motor satu-satunya yang dimilikinya hingga ia wafat. Tak ada perlakuan istimewa, sekalipun tokoh sekaliber Pak AR. Taat hukum dan disiplin, seperti ditunjukkannnya dalam ujian SIM motornya itu, adalah bagian dari sikap hidupnya.
Bagi tokoh sederhana ini, motor bebek butut itu memiliki arti tersendiri. Meski presiden Astra Internasional pernah datang menawarinya sedan toyota terbaru, namun ia dengan halus menolaknya. Sikap serupa juga ditunjukkannya ketika Presiden Soeharto (kala itu) menawarinya menjadi menteri agama.
Salah satu keahlian Pak AR yang prima adalah kemampuannya berbicara di depan publik. Segar, taktis, dan orang awam pun mudah memahaminya. Tidak ada retorika, penuh anekdot, sindiran, dan kritik tapi tidak menyakitkan. Bahkan kerapkali bernada komedis. Tidak mencari kambing hitam, tetapi lebih bersifat metani awake dewe (mengoreksi diri). Tak hanya pesan lisan, gaya itu pula yang ditunjukkannya dalam setiap tulisannya pada rubrik tetapnya "Pak AR Menjawab", setiap Kamis di harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta. Penampilannya yang demikian ini membuat dakwah Pak AR dapat diterima semua kalangan, dari pejabat negara hingga 'kaum kolong jembatan'.
Bagi Pak AR, Islam itu adalah agama yang mudah dan simpel. Semuanya jika dilakukan sesuai kaidah-kaidah Islam, akan menjadi gamblang dan tak berbelit. Namun demikian, bukan berarti dalam dakwahnya Pak AR mempermudah agama. Kiai ini menerjemahkan bagaimana agar orang mudah memahami risalah dakwahnya.
Sebuah contoh tentang betapa enak dan sederhananya Pak AR dalam berdakwah dapat dilihat misalnya ketika ia memberi saran kepada umat Islam dalam berdakwah. "Berdakwah itu gampang, depan rumah diajak berbuat baik dan bersembahyang, tetangga kanan rumah juga diajak beriman dan bertakwa, kiri rumah diajak pula berbuat kebaikan, sementara belakang rumah tidak usah, wong di situ kuburan!" Hadirin sontak tertawa mendengar uraian Pak AR.
Hal serupa juga dilakukannya di kalangan kaum terpelajar. Dalam sebuah forum tanya jawab di Ramadhan in Campus UGM, Pak AR wanti-wanti agar mahasiswa yang suka berpikir filosofis jangan terlalu rasional dalam menanyakan masalah-masalah agama. "Saya takut nanti ada yang tanya, kenapa shalat Shubuh dua rakaat, padahal waktu Shubuh 'kan orang masih segar dan tenaganya kumpul penuh. Bagaimana saya bisa menjawab?" katanya. "Tapi nanti ada juga mahasiswa yang menjawab, 'Ya karena yang paling duluan bangun di pagi hari kan ayam, dan karena ayam kakinya dua, maka shalat Shubuh dua rakaat'," jelas Pak AR, yang langsung disambut gerr mahasiswa.
Di lain kesempatan pengajian rutin, diajukan pertanyaan, "Pak AR, dalam hadis disebutkan bahwa selama Ramadhan, semua setan dan iblis dibelenggu. Kenyataannya masih banyak orang berbuat maksiat?" Dengan khasnya, Pak AR menjawab, "Yah, itulah manusia. Banyak yang lemah iman. Dengan setan dibelenggu saja kalah, apalagi melawan setan lepas-lepasan."
Begitu pula kearifan jawaban Pak AR yang terasa tidak menggurui dan menggiring penanya hanya pada satu pilihan. Misalnya, ketika Pak AR menanggapi sekitar boleh tidaknya memanfaatkan uang dari hasil SDSB untuk membangun masjid, dengan tegas Pak AR mengatakan "Boleh-boleh saja untuk membangun masjid. Tapi perlu diingat, bahwa hal itu tidak akan mendapat pahala." Bagi Pak AR, daripada uang itu digunakan untuk hal-hal yang mendatangkan maksiat, ada baiknya dipakai untuk membangun tempat ibadah.
''Bersediakah orang-orang di sekitarnya sembahyang dengan sebagian dari uang hadiah SDSB? Shalatnya tetap sah, selama memenuhi syarat dan rukun-rukun shalat," tuturnya. Rupanya Pak AR menyadari, bahwa sebagian besar penanya adalah mereka yang masuk dalam kategori Muslim ijabah dan Muslim dakwah, yakni mereka yang masih sangat memerlukan pembinaan dan pengayoman lewat cara-cara yang tidak membuat mereka lari dari keislamannya.
"Pak AR mengajarkan bagaimana manusia harus hidup bersama dalam keharmonisan. Apa yang dicoba untuk diperbuat Pak AR dalam pidatonya adalah memberi interpretasi baru terhadap tema-tema etnik Jawa tradisional yang sudah dikenal kebanyakan orang," ujar ilmuwan dan Indonesianis asal Jepang, Prof Mitsuo Nakamura.
Sukses dalam berdakwah dan memimpin persyarikatan Muhammadiyah. Boleh dibilang, periode kepemimpinan Pak AR sebagai masa-masa kritis berkenaan dengan kemajuan iptek dan perkembangan sosial politik di era 80-an.
Tantangan internal terpenting saat itu adalah soal mandegnya daya nalar dan pembaruan, satu problem yang sejatinya sangat bertolak belakang dengan misi dan visi Muhammadiyah sebagai organisasi sosial keagamaan yang berorientasi pada pembaruan pemikiran dan kehidupan umatnya. Akibatnya, dirasakan betapa merosotnya kepeloporan Muhammadiyah di tengah proses perubahan sosial, politik, ekonomi, kebudayaan, dan pemikiran keagamaan.
Melihat kenyataan tak menguntungkan ini, Pak AR secara konsisten menggerakkan aktivitas organisasi sesuai dengan khittah-nya, yakni ormas dengan misi tajdid (pembaruan) dan kesejahteraan sosial umat. Itu misalnya dilakukan dengan menggiatkan kegiatan yang bersifat eksplorasi pemikiran dan pengembangan amal sosial, usaha, dan lembaga pendidikan serta sektor ekonomi persyarikatan.
Masa sulit kepemimpinan Pak AR juga terjadi dalam kaitan dengan perkembangan sosial politik Orde Baru di era 70-an. Saat itu, Muhammadiyah dihadapkan pada tantangan netralitas dan independensinya terhadap partai politik. Sementara, di saat yang sama aparat dan pemerintah di daerah terus mencurigai Muhammadiyah sebagai kekuatan yang identik dengan partai Islam dan kekuatan politik Islam konservatif.
Berhasil menetralisir stereotip, sekalipun anggapan itu bukan ultimate yang bersifat umum, tantangan serius muncul, yakni soal kebijakan pemerintah orba dengan penerapan asas tunggal Pancasila pada 1985. Posisi dilematis Muhammadiyah sebagai salah satu penyangga pemerintahan Orde Baru, harus memilik antara asas Pancasila atau asas Islam yang dianut selama ini.
Pak AR, dalam berbagai kesempatan mendiskusikan bagaimana Muhammadiyah harus bersikap. Akhirnya, sebuah kiat sederhana dan jitu berhasil dirumuskan Pak AR. Bahwa penerimaan Muhammadiyah terhadap asas tunggal Pancasila, katanya, didasarkan pada komitmen rakyat terhadap Pancasila sebagai dasar negara, seperti telah disepakati dalam pembentukan negara RI tahun 1945.
Penerimaan asas tunggal sebagai dasar organisasi ini, demikian Pak AR, harus diterima Muhammadiyah ibarat "politik helm". "Siapapun yang akan mengendarai sepeda motor di jalanan umum, diwajibkan untuk menggunakan helm, sebagai persyaratan bagi keselamatannya," jelas Pak AR.
Seluruh kebijakan dan kemampuan mengelola Muhammadiyah dalam masa kritis itu menunjukkan bagaimana daya tanggap, keluwesan, efektivitas dan kekuatan kepribadian dari kepemimpinan Pak AR. Melalui kemampuan itulah pada akhirnya Pak AR berhasil menggulirkan gagasan-gagasan baru dalam persyarikatan.
Pak AR telah meninggalkan bukan saja teladan hidup dan bersikap, tapi juga karya tulis. Beberapa buku yang pernah ditulisnya adalah; Naskah Kesyukuran; Naskah Entheng, Serat Kawruh Islam Kawedar Upaya Mewujudkan Muhammadiyah Sebagai Gerakan Amal; Pemikiran dan Dakwah Islam; Syahadatain Kawedar; Tanya Jawab Entheng-Enthengan; Muhammadiyah adalah Organisasi Dakwah Islamiyah; Al Islam bagian Pertama; Menuju Muhammadiyah; Sekaten dan Tuntunan Shalat Basa Jawi; Kembali Kepada Alquran dan Hadis; Khutbah Nikah dan Terjemahannya; Pilihlah Pimpinan Muhammadiyah Yang Tepat; Soal-Jawab Entheng-Enthengan; Sarono Entheng-Enthengan Pancasila; Ruh Muhammadiyah, dan lain sebagainya.n hery sucipto
'Surga 500-an Sudah Habiiiss'
Pada suatu kesempatan pengajian, Pak AR meminta umat Islam agar tidak tanggung-tanggung dan menyumbang dengan uang kecil untuk membangun masjid atau amal usaha lain. "Sekarang, surga yang harganya lima ratus rupiah sudah habiiiss," kata Pak AR. Kontan saja, para hadirin yang memadati ceramahnya dibuatnya geerrr.
Menurut Pak AR, umat Islam selama ini masih ogah-ogahan dalam menyumbang atau amal jariah untuk pembangunan tempat ibadah atau amal usaha lainnya. Namun, katanya, kalau untuk keperluan menonton bioskop atau hiburan lainnya, mereka tidak keberatan, meski harga tiketnya mahal.
Itulah cara Pak AR menggugah kesadaran dan memberi spirit beragama umat Islam. Pak AR ingin menegaskan, bahwa maju mundurnya peradaban Islam, sebenarnya juga tergantung pada sumbangsih, baik materi maupun non-materi, umatnya. Karena itu, sudah semestinya kaum Muslimin tak ragu dalam partisipasi pengembangan agamanya ke depan.
Tak hanya itu, dorongan spirit Pak AR juga ditunjukkan dalam hal dakwah kultural Islam. Dalam banyak kesempatan misalnya, Pak AR mengapresiasi kebudayaan lokal, namun tak meninggalkan adat Islamnya. Malah, kalau bisa adat lokal itu diberi muatan agama.
"Kalau tidak rela perayaan Sekaten, ada tari dangdut, tari setan, bola maut, dan kraton gendruwo (kraton siluman) ya mari kita gembirakan isi dengan kesenian yang bermutu dan bercitra Islam...Jika umat agama lain punya sekolahan, panti asuhan, rumah sakit, ayolah kita tanding jangan cuma menggerutu," ujar Pak AR, mendorong umat Islam agar tak hanya bicara demi kemajuan Islam, tapi juga harus ditunjukkan langsung dengan perbuatan konkrit. her ()
from : http://202.155.15.208/koran_detail.asp?id=90459&kat_id=185&kat_id1=&kat_id2=
"Priiit, ... mulai!" Motor Yamaha bebek butut tahun 70-an warna oranye yang telah luntur meluncur pelan. Menjelang deretan tonggak kayu yang harus dilewati zig-zag, pengendaranya turun. "Lho, kok dituntun, Pak?" tegur polisi penguji SIM. "Ya, kalau ada jalan seperti ini memang saya pilih turun, daripada jatuh." Semua yang mendengar jawaban polos kakek berbadan besar, berkulit hitam dan berkacamata itu tertawa, tak terkecuali polisi dari Satlantas, Yogyakarta.
Demikian Kiai Haji Abdur Rozak Fachruddin, alias Pak AR, ketika memperbarui SIM motor satu-satunya yang dimilikinya hingga ia wafat. Tak ada perlakuan istimewa, sekalipun tokoh sekaliber Pak AR. Taat hukum dan disiplin, seperti ditunjukkannnya dalam ujian SIM motornya itu, adalah bagian dari sikap hidupnya.
Bagi tokoh sederhana ini, motor bebek butut itu memiliki arti tersendiri. Meski presiden Astra Internasional pernah datang menawarinya sedan toyota terbaru, namun ia dengan halus menolaknya. Sikap serupa juga ditunjukkannya ketika Presiden Soeharto (kala itu) menawarinya menjadi menteri agama.
Salah satu keahlian Pak AR yang prima adalah kemampuannya berbicara di depan publik. Segar, taktis, dan orang awam pun mudah memahaminya. Tidak ada retorika, penuh anekdot, sindiran, dan kritik tapi tidak menyakitkan. Bahkan kerapkali bernada komedis. Tidak mencari kambing hitam, tetapi lebih bersifat metani awake dewe (mengoreksi diri). Tak hanya pesan lisan, gaya itu pula yang ditunjukkannya dalam setiap tulisannya pada rubrik tetapnya "Pak AR Menjawab", setiap Kamis di harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta. Penampilannya yang demikian ini membuat dakwah Pak AR dapat diterima semua kalangan, dari pejabat negara hingga 'kaum kolong jembatan'.
Bagi Pak AR, Islam itu adalah agama yang mudah dan simpel. Semuanya jika dilakukan sesuai kaidah-kaidah Islam, akan menjadi gamblang dan tak berbelit. Namun demikian, bukan berarti dalam dakwahnya Pak AR mempermudah agama. Kiai ini menerjemahkan bagaimana agar orang mudah memahami risalah dakwahnya.
Sebuah contoh tentang betapa enak dan sederhananya Pak AR dalam berdakwah dapat dilihat misalnya ketika ia memberi saran kepada umat Islam dalam berdakwah. "Berdakwah itu gampang, depan rumah diajak berbuat baik dan bersembahyang, tetangga kanan rumah juga diajak beriman dan bertakwa, kiri rumah diajak pula berbuat kebaikan, sementara belakang rumah tidak usah, wong di situ kuburan!" Hadirin sontak tertawa mendengar uraian Pak AR.
Hal serupa juga dilakukannya di kalangan kaum terpelajar. Dalam sebuah forum tanya jawab di Ramadhan in Campus UGM, Pak AR wanti-wanti agar mahasiswa yang suka berpikir filosofis jangan terlalu rasional dalam menanyakan masalah-masalah agama. "Saya takut nanti ada yang tanya, kenapa shalat Shubuh dua rakaat, padahal waktu Shubuh 'kan orang masih segar dan tenaganya kumpul penuh. Bagaimana saya bisa menjawab?" katanya. "Tapi nanti ada juga mahasiswa yang menjawab, 'Ya karena yang paling duluan bangun di pagi hari kan ayam, dan karena ayam kakinya dua, maka shalat Shubuh dua rakaat'," jelas Pak AR, yang langsung disambut gerr mahasiswa.
Di lain kesempatan pengajian rutin, diajukan pertanyaan, "Pak AR, dalam hadis disebutkan bahwa selama Ramadhan, semua setan dan iblis dibelenggu. Kenyataannya masih banyak orang berbuat maksiat?" Dengan khasnya, Pak AR menjawab, "Yah, itulah manusia. Banyak yang lemah iman. Dengan setan dibelenggu saja kalah, apalagi melawan setan lepas-lepasan."
Begitu pula kearifan jawaban Pak AR yang terasa tidak menggurui dan menggiring penanya hanya pada satu pilihan. Misalnya, ketika Pak AR menanggapi sekitar boleh tidaknya memanfaatkan uang dari hasil SDSB untuk membangun masjid, dengan tegas Pak AR mengatakan "Boleh-boleh saja untuk membangun masjid. Tapi perlu diingat, bahwa hal itu tidak akan mendapat pahala." Bagi Pak AR, daripada uang itu digunakan untuk hal-hal yang mendatangkan maksiat, ada baiknya dipakai untuk membangun tempat ibadah.
''Bersediakah orang-orang di sekitarnya sembahyang dengan sebagian dari uang hadiah SDSB? Shalatnya tetap sah, selama memenuhi syarat dan rukun-rukun shalat," tuturnya. Rupanya Pak AR menyadari, bahwa sebagian besar penanya adalah mereka yang masuk dalam kategori Muslim ijabah dan Muslim dakwah, yakni mereka yang masih sangat memerlukan pembinaan dan pengayoman lewat cara-cara yang tidak membuat mereka lari dari keislamannya.
"Pak AR mengajarkan bagaimana manusia harus hidup bersama dalam keharmonisan. Apa yang dicoba untuk diperbuat Pak AR dalam pidatonya adalah memberi interpretasi baru terhadap tema-tema etnik Jawa tradisional yang sudah dikenal kebanyakan orang," ujar ilmuwan dan Indonesianis asal Jepang, Prof Mitsuo Nakamura.
Sukses dalam berdakwah dan memimpin persyarikatan Muhammadiyah. Boleh dibilang, periode kepemimpinan Pak AR sebagai masa-masa kritis berkenaan dengan kemajuan iptek dan perkembangan sosial politik di era 80-an.
Tantangan internal terpenting saat itu adalah soal mandegnya daya nalar dan pembaruan, satu problem yang sejatinya sangat bertolak belakang dengan misi dan visi Muhammadiyah sebagai organisasi sosial keagamaan yang berorientasi pada pembaruan pemikiran dan kehidupan umatnya. Akibatnya, dirasakan betapa merosotnya kepeloporan Muhammadiyah di tengah proses perubahan sosial, politik, ekonomi, kebudayaan, dan pemikiran keagamaan.
Melihat kenyataan tak menguntungkan ini, Pak AR secara konsisten menggerakkan aktivitas organisasi sesuai dengan khittah-nya, yakni ormas dengan misi tajdid (pembaruan) dan kesejahteraan sosial umat. Itu misalnya dilakukan dengan menggiatkan kegiatan yang bersifat eksplorasi pemikiran dan pengembangan amal sosial, usaha, dan lembaga pendidikan serta sektor ekonomi persyarikatan.
Masa sulit kepemimpinan Pak AR juga terjadi dalam kaitan dengan perkembangan sosial politik Orde Baru di era 70-an. Saat itu, Muhammadiyah dihadapkan pada tantangan netralitas dan independensinya terhadap partai politik. Sementara, di saat yang sama aparat dan pemerintah di daerah terus mencurigai Muhammadiyah sebagai kekuatan yang identik dengan partai Islam dan kekuatan politik Islam konservatif.
Berhasil menetralisir stereotip, sekalipun anggapan itu bukan ultimate yang bersifat umum, tantangan serius muncul, yakni soal kebijakan pemerintah orba dengan penerapan asas tunggal Pancasila pada 1985. Posisi dilematis Muhammadiyah sebagai salah satu penyangga pemerintahan Orde Baru, harus memilik antara asas Pancasila atau asas Islam yang dianut selama ini.
Pak AR, dalam berbagai kesempatan mendiskusikan bagaimana Muhammadiyah harus bersikap. Akhirnya, sebuah kiat sederhana dan jitu berhasil dirumuskan Pak AR. Bahwa penerimaan Muhammadiyah terhadap asas tunggal Pancasila, katanya, didasarkan pada komitmen rakyat terhadap Pancasila sebagai dasar negara, seperti telah disepakati dalam pembentukan negara RI tahun 1945.
Penerimaan asas tunggal sebagai dasar organisasi ini, demikian Pak AR, harus diterima Muhammadiyah ibarat "politik helm". "Siapapun yang akan mengendarai sepeda motor di jalanan umum, diwajibkan untuk menggunakan helm, sebagai persyaratan bagi keselamatannya," jelas Pak AR.
Seluruh kebijakan dan kemampuan mengelola Muhammadiyah dalam masa kritis itu menunjukkan bagaimana daya tanggap, keluwesan, efektivitas dan kekuatan kepribadian dari kepemimpinan Pak AR. Melalui kemampuan itulah pada akhirnya Pak AR berhasil menggulirkan gagasan-gagasan baru dalam persyarikatan.
Pak AR telah meninggalkan bukan saja teladan hidup dan bersikap, tapi juga karya tulis. Beberapa buku yang pernah ditulisnya adalah; Naskah Kesyukuran; Naskah Entheng, Serat Kawruh Islam Kawedar Upaya Mewujudkan Muhammadiyah Sebagai Gerakan Amal; Pemikiran dan Dakwah Islam; Syahadatain Kawedar; Tanya Jawab Entheng-Enthengan; Muhammadiyah adalah Organisasi Dakwah Islamiyah; Al Islam bagian Pertama; Menuju Muhammadiyah; Sekaten dan Tuntunan Shalat Basa Jawi; Kembali Kepada Alquran dan Hadis; Khutbah Nikah dan Terjemahannya; Pilihlah Pimpinan Muhammadiyah Yang Tepat; Soal-Jawab Entheng-Enthengan; Sarono Entheng-Enthengan Pancasila; Ruh Muhammadiyah, dan lain sebagainya.n hery sucipto
'Surga 500-an Sudah Habiiiss'
Pada suatu kesempatan pengajian, Pak AR meminta umat Islam agar tidak tanggung-tanggung dan menyumbang dengan uang kecil untuk membangun masjid atau amal usaha lain. "Sekarang, surga yang harganya lima ratus rupiah sudah habiiiss," kata Pak AR. Kontan saja, para hadirin yang memadati ceramahnya dibuatnya geerrr.
Menurut Pak AR, umat Islam selama ini masih ogah-ogahan dalam menyumbang atau amal jariah untuk pembangunan tempat ibadah atau amal usaha lainnya. Namun, katanya, kalau untuk keperluan menonton bioskop atau hiburan lainnya, mereka tidak keberatan, meski harga tiketnya mahal.
Itulah cara Pak AR menggugah kesadaran dan memberi spirit beragama umat Islam. Pak AR ingin menegaskan, bahwa maju mundurnya peradaban Islam, sebenarnya juga tergantung pada sumbangsih, baik materi maupun non-materi, umatnya. Karena itu, sudah semestinya kaum Muslimin tak ragu dalam partisipasi pengembangan agamanya ke depan.
Tak hanya itu, dorongan spirit Pak AR juga ditunjukkan dalam hal dakwah kultural Islam. Dalam banyak kesempatan misalnya, Pak AR mengapresiasi kebudayaan lokal, namun tak meninggalkan adat Islamnya. Malah, kalau bisa adat lokal itu diberi muatan agama.
"Kalau tidak rela perayaan Sekaten, ada tari dangdut, tari setan, bola maut, dan kraton gendruwo (kraton siluman) ya mari kita gembirakan isi dengan kesenian yang bermutu dan bercitra Islam...Jika umat agama lain punya sekolahan, panti asuhan, rumah sakit, ayolah kita tanding jangan cuma menggerutu," ujar Pak AR, mendorong umat Islam agar tak hanya bicara demi kemajuan Islam, tapi juga harus ditunjukkan langsung dengan perbuatan konkrit. her ()





Komentar terakhir
@*dtcomment*@@*titolopost*@
@*nome*@